Pages

Senin, 28 Januari 2013

Kisah Rumput dan Kekuatan Pesepakbola Kita

Jakarta - Kematian Diego Mendieta menyentak banyak orang akan nelangsanya nasib pesepakbola profesional di Indonesia. Cerita tragis yang sudah usang dan sepertinya akan bertambah panjang melihat reaksi para pemain itu sendiri. "Saya harapkan sebelum kompetisi dimulai, tunggakan semua pemain dapat terselesaikan. Jika tidak, kami sepakat akan mogok dan tidak ingin bermain lagi. Ini langkah terakhir yang kami ambil," Ujar Ponaryo Astaman, Presiden APPI sehari setelah Mendieta mendapatkan kepastian gajinya dengan mengadu langsung ke Tuhan dengan mengirim nyawanya naik ke langit. Sayangnya statement itu hanya berumur 5 hari. Karena kemudian Popon -- begitu biasanya Ponaryo dipanggil -- meralat ucapannya dengan mengatakan bahwa mogok bermain akan percuma karena masalahnya ada pada federasi. Kalau pemain sekelas Popon, salah satu pemain cerdas, mantan kapten timnas dan punya pengaruh besar sebagai seorang petinggi asosiasi pemain yang berafiliasi ke FIFPro saja lebih sibuk mencari alasan dan begitu lemah menuntut haknya, sepertinya cerita pedih itu akan terus berlanjut. Popon dan para pemain kita ternyata belum sepenuhnya sadar bahwa mereka sedang bermain bola pada masa yang disebut sebagai "Era of Player Power" dalam jagat sepakbola. Era di mana para pemain adalah bos dan klub harus menuruti keinginan pemainnya. Player Power: Cruyff, Bosman dan Pusingnya SAF Piala Dunia 1974 selain tercatat sejarah sebagai awal perselisihan keuangan antara pemain dan federasi juga menjadi cikal bakal power player. Di saat sponsor mulai masuk dan koran-koran "mem-branding" pemain bintang di headline mereka, para pemain mulai menyadari daya jualnya. Momen yang paling dikenang adalah soal jersey spesial bintang Belanda Johan Cruyff. Cruyff menolak memakai jersey timnas Belanda dengan 3 strip khas Adidas. Menurutnya itu tidak etis karena dia sudah dikontrak Puma yang mendukungnya dengan sepatu klasik Puma King. Hebatnya, KNVB akhirnya menyetujui permintaan Cruyff dengan memberinya jersey khusus dengan 2 strip. Sebuah contoh klasik player power. (Keterangan gambar: Perhatikan garis di lengan jersey Cruyff (di samping wasit) yang lebih sedikit dengan rekan-rekannya yang lain.) Contoh modern player power bisa dibaca dari kisah Frederic Kanoute. Pemain muslim asal Mali itu menolak mengenakan jersey klubnya dengan sponsor situs judi 888.com. Kanoute menutupi bagian dadanya dengan kain putih, sebelum akhirnya Sevilla menyediakan jersey khusus tanpa sponsor untuknya. Belakangan Kanoute berkenan memakai jersey lengkap dengan sponsor setelah 888.com bersedia memberikan donasi dalam jumlah tertentu untuk kegiatan sosial. Tapi pemain yang menjadikan "pemain adalah bos" pada tatanan sepakbola modern adalah seorang pemain yang terkenal setelah memenangi tuntutan di European Court of Justice tahun 1995: Jean Marc Bosman. Keputusan pengadilan yang kemudian lebih dikenal sebagai Bosman Rules membuat para pemain memegang kendali. Pemain yang habis kontrak bisa meminta fee dan gaji yang lebih besar karena klub baru mereka tidak perlu mengeluarkan biaya transfer. Pemain yang sedang dalam kontrak pun bisa menuntut kontrak yang lebih panjang dan gaji yang lebih besar setiap tahun, karena mereka bisa saja pergi dengan gratis begitu kontraknya berakhir. Klub menjadi tak berdaya untuk mencegah pemain terbaiknya pindah pada saat kontraknya berakhir. Aturan ini terus memicu semakin kuatnya player power. Sekarang klub tidak bisa semena-mena menjual pemain. Pemain berhak untuk memilih duduk di bangku cadangan dan menolak dijual ke klub lain kalau kontraknya belum berakhir. Tapi kalau pemain minta dijual, klub tidak punya pilihan lain selain menuruti kemauan pemain, atau dia bebas pergi tanpa sesen pun uang akan diterima klub. Begitu besarnya kekuatan seorang pemain profesional sekarang ini, sampai Sir Alex Fergusson pun mengeluh bahwa para pemain sekarang ini tidak punya ikatan dengan klubnya. Sayangnya, player power ini belum menular ke pemain-pemain di liga lokal kita. Samson modern dengan ketek rumput Kondisi pemain dalam persepakbolaan negeri ini mirip kondisi 100 tahun awal sepakbola profesional. Saat itu para pemain diperlakukan setara dengan buruh pada industri lain. Di Inggris pernah ada aturan gaji maksimal pemain sepakbola boleh lebih tinggi 5 poundsterling dari buruh lainnya. Klub memegang penuh kekuasaan dalam perjanjian kerja, sementara para pemain digaji rendah, tanpa daya dan tanpa kebebasan untuk bergerak. Kondisi di liga kita bahkan mungkin lebih parah. Meskipun kontraknya terlihat wah, tapi sebenarnya para pemain profesional di Indonesia diperlakukan seperti budak. Main atau tidak digaji. Bahkan sudah berlatih dan bermain sepenuh hati pun belum tentu digaji. Tidak tanggung-tanggung, ada klub yang tega tidak membayar pemainnya selama 10 bulan! Belum lagi larangan untuk memperkuat timnas dari klub-klub yang menunggak gaji pemain. Dengan rata-rata kontrak 1 musim kompetisi, aturan Bosman tidak berlaku di sini. Di saat kontrak habis cuma ada 2 pilihan buat pemain: secepatnya mencari klub baru dengan kondisi finansial yang lebih baik sehingga gaji lancar, setidaknya untuk bulan-bulan pertama, atau bertahan di klub lama sambil berharap tunggakan gaji segera cair. Untuk klub pilihannya bertambah satu lagi yang lebih menguntungkan: Bubarkan tim lalu bikin seleksi pemain baru. Sementara pemain lama yang gajinya tertunggak cukup diberi janji: gajinya akan dibayarkan setelah dermawan-dermawan sepakbola Indonesia bermurah hati mencairkan sedekah. Mengenaskan. Sayangnya, diperlakukan seperti itu para pemain kita sampai saat ini seolah tak punya semangat juang untuk mengubah nasibnya. Tidak seperti saat berlaga di mana mereka bermain tanpa rasa takut bahkan pada wasit sekalipun. Mental para pemain ini begitu kuat menghadapi teror penonton paling sadis. Dari lemparan mercon, batu bata bahkan botol air mineral berisi air kencing. Mereka berlari, menendang dan menerjang. Tendangannya bisa mengganggu penerbangan lokal kata komentator di tv melebih-lebihkan tendangan jarak jauh yang melambung tinggi. Tapi begitu berpisah degan lapangan rumput, kekuatan sebagai pemain trengginas itu musnah tak berbekas. Persis Benyamin S. sebagai Samson saat berpisah dengan bulu keteknya. Kalau buruh-buruh pabrik begitu jantan menuntut haknya dengan serangkaian demo dan mogok kerja, para "buruh" lapangan hijau baru berani menggunakan kaos solidaritas dan berlutut beberapa detik setelah kick-off. Mirip tentara yang berharap menang perang hanya dengan membersihkan senapan. Nyawa yang tidak boleh pasrah menderita Para pemain harus yakin dengan peran vital mereka di industri ini. Tanpa penonton, pengurus, pelatih, federasi bahkan wasit, sepakbola tetap bisa dimainkan. Tapi tanpa pemain, bola hanya akan teronggok di sudut lapangan karena tak ada yang menyepaknya. Pemain adalah nyawa sepakbola. Pemain harus belajar bagaimana tahun 2011 lalu Association of Spanish Footballers (AFE) sepakat untuk mogok main setelah lebih dari 200 pemain divisi 2 gajinya tertunggak gajinya berbulan-bulan. Akibatnya Primera Division (La Liga) dan Segunda Division ditunda karena tak terjadi kesepakataan pada pekan pertama. Setelah negosiasi yang alot akhirnya tercapai kesepakatan dengan Liga de Futbol Profesional (LFP) untuk menjamin terbayarnya gaji pemain melalui berbagai cara. Pemain tak perlu berharap pada PSSI yang dengan legitimasi penuh, dipersenjatai setumpuk statuta dan aturan, ternyata tak mampu bersikap tegas pada para pelanggar untuk melindungi hak pemain. Tak patut juga berharap pada pengurus klub karena bagi pengurus, masalah gaji yang tertunggak biarlah jadi urusan pengurus baru dan investor berikutnya. Jangan juga berharap pada kami para suporter, karena pemain digaji atau tidak, para suporter tetap akan memaki kalau mereka tidak becus menendang bola dan memenangi pertandingan. Berharap pada pemerintah atau BOPI yang syarat kepentingan politik juga tidak menjanjikan. Apalagi KPSI yang telah memperlakukan mereka seperti tahanan karena tak boleh membela negara. Nasib pemain ada di kaki-kaki berotot pemain sendiri. Mereka hanya boleh bergantung pada tenaga, mental petarung dan semangat juang mereka sendiri. Merdeka di atas lapangan rumput juga di luarnya. Pemain harus sepenuhnya sadar bahwa kemerdekaan pertama adalah merdeka sebagai manusia, karena setelah itu baru akan datang kemerdekaan kedua: Merdeka dari kelaparan. Selamat berjuang pahlawan-pahlawanku!

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Copyright 2011 Edwin's Blog. Powered by Blogger
Blogger by Blogger Templates WP by Wpthemescreator