Pages

Senin, 28 Januari 2013

PADA mulanya Kick Andy hanya sebuah wacana dan kerinduan bos Metro TV Surya Paloh yang ingin mendayagunakan kemampuan Andy Noya untuk tampil seperti apa adanya di layar kaca. Di mata Surya Paloh, Andy Noya yang suaranya biasa-biasa saja, bahkan cenderung cempreng, punya kemampuan luar biasa, terutama dalam menggali informasi yang "disembunyikan" narasumber. Sebelum memandu Kick Andy, Andy Noya pernah memandu acara talk show Today's Dialogue. Saat memandu acara ini, para narasumber—umumnya para politikus dan pejabat—kerap dibuat tak berdaya saat harus menjawab pertanyaan-pertanyaan Andy yang selalu menukik pada sasaran yang jawabannya ditunggu-tunggu pemirsa. Kehadiran Andy dalam talk show ini seolah menjadi representasi dari publik itu sendiri. Lazimnya politikus dan pejabat publik, saat dicerca dengan pertanyaan-pertanyaan dari Andy, mereka kerap berkelit atau berpikir beberapa saat sebelum memberikan jawaban. Dari mimik wajah sang politikus atau pejabat, pemirsa dengan gampang menyimpulkan mereka berbohong atau sekadar basa-basi. jika narasumbernya berlaku seperti ini, kerap Andy mendiamkannya, sehingga lewat simbol gambar yang tertayang di layar kaca, pemirsa semakin mudah menerka seperti apa "kualitas" atau "moral" tokoh yang diwawancarai Andy Noya. Gaya dalam mewawancarai para tokoh seperti itulah yang dilihat Surya Paloh sebagai kelebihan Andy Noya. Oleh sebab itulah Surya Paloh merasa perlu mendayagunakan kemampuan Andy Noya bukan sekadar sebagai pemimpin redaksi saja, tapi juga pewawancara dalam acara talk show. "Andy harus punya program acara sendiri, dan dia yang harus jadi bintangnya," cetus Surya Paloh di tahun 2000-an. Di benak Surya Paloh, Andy Noya harus bisa seperti Larry King (CNN) dan Jay Leno (CNBC) yang terkenal itu. Saat mewawancarai narasumber dengan beragam latar belakang, kedua tokoh tersebut punya karakter. Tajam dalam mengajukan pertanyaan, menukik dan mengena pada sasaran. Surya Paloh sadar Andy memang tidak mungkin disamakan atau harus sama dengan Larry King dan Jay Leno. Namun, demikian kesimpulan Surya: "Andy memiliki talenta mewawancara orang dengan cara yang unik, jenaka, tajam tapi tidak menyakitkan, dan memiliki ciri tersendiri." Terlena menangani Today's Dialogue dan kewajiban sebagai pemimpin redaksi, gagasan dan keinginan Surya Paloh belum bisa direspons oleh Andy Noya dan juga kawan-kawan. Lagi pula, di mata para profesional atau pekerja media yang bekerja di Media Group, Surya Paloh dikenal sebagai pemimpin yang suka meledak-ledak dalam mengeluarkan ide, dan cenderung dilebih-lebihkan. Sering malah ide itu diungkapkan sambil bergurau di kafe atau tempat-tempat santai. Rupanya, kali ini Surya Paloh serius. Suatu hari, dia memanggil Andy Noya dan kawan-kawan dan mengingatkan kembali gagasan yang pernah ditawarkan kepada Andy. "Rupanya dia khawatir, talenta yang saya miliki bisa hilang jika tidak dipakai atau dilatih," ungkap Andy Noya suatu kali. Gagasan tersebut mendapat dukungan dari pimpinan Metro TV yang lain. Persoalannya kemudian, bentuk acaranya seperti apa? Ada niat membuat program yang secara mentahmentah menjiplak talk show ala Larry King atau Jay Leno, tapi diurungkan, karena dinilai membosankan. Lagi pula hampir semua stasiun televisi punya program seperti itu. Tim Metro TV pun dilibatkan untuk mewujudkan gagasan Surya Paloh, namun tetap harus memiliki karakter orisinal Metro TV. Dalam sebuah forum, Manajer Promosi Metro TV Adjie S. Soeratmadjie kemudian mengajukan konsep acara bernama Andy Noya Show. Konsep ini dia ajukan ke direksi Metro TV pada 27 Juli 2004 dengan format acara seperti yang sekarang ada di Kick Andy. Belum terlalu sempurna, pencipta lagu "Indonesia Menangis" bersama Chossy Pratama itu kemudian mematangkan konsepnya dengan Andy Noya. Konsep ini selesai pada 20 Desember 2004 dan kembali diajukan ke direksi. Beres? Ternyata belum. "Gelap, sepertinya nggak jadi," ungkap Adjie. Setelah mengendap selama setahun, barulah gagasan untuk menghadirkan Andy Noya Show muncul lagi. Namun Adjie mengaku belum pas dengan nama acara yang digagasnya (Andy Noya Show). Dia lalu mengusulkan nama itu diganti dengan Kickin' Andy. Tapi nama ini pun, menurut Adjie, belum juga "menjual". Lebih dari itu, dia tidak ingin nantinya dianggap meniru judul program TV asing Kickin' Byron. Singkat cerita, ketemulah nama Kick Andy. Siapa nyana, acara ini sekarang menjadi salah satu ikon Metro TV dan digemari banyak pemirsa serta mengundang decak kagum banyak orang, meskipun menurut Adjie, masih banyak hal yang perlu disempurnakan. Pada awalnya, Andy sempat menolak program Kick Andy dengan format seperti sekarang ini, sebab tidak jauh berbeda dengan acara Oprah Winfrey Show yang ada unsur hiburannya. Andy merasa dirinya tidak bisa menghibur dan bukan tipe orang yang suka menghibur seperti halnya Oprah. Dia lebih merasa sebagai jurnalis. Setelah mempertimbangkan berbagai hal, "Saya akhirnya memutuskan untuk mencoba menerima konsep itu. Setelah membicarakan dengan tim Metro TV lain, Kick Andy akhirnya menggabungkan konsep Larry King dan Oprah. Nama Kick Andy yang dianggap agak sedikit 'nakal,'" kata Andy Noya, "akhirnya tetap dipertahankan." Sesuai dengan karakter dan gaya Andy Noya saat memandu Today's Dialogue, Kick Andy memang harus nakal, nyentil, nyindir, jenaka, tajam namun tidak menyakitkan narasumber. Berbeda dengan Today's Dialogue yang banyak memasuki wilayah politik, Kick Andy menyajikan topik-topik sosial, kesehatan, pendidikan, budaya dan masalah kemasyarakatan lainnya. Kick Andy dirancang untuk memberikan inspirasi bagi penonton. Misalnya mereka yang cacat tidak merasa terbatas dengan cacatnya, tidak merasa hidupnya hancur. Sebaliknya mereka malah justru berprestasi, sehingga memotivasi penonton untuk juga memiliki semangat hidup dan daya juang yang tinggi. Misi ini jelas terlihat saat Kick Andy menampilkan tema penyakit stroke yang ditayangkan pada Kamis (5 Juli 2007). Pada episode ini Kick Andy menghadirkan narasumber penderita stroke, antara lain mantan penyiar Ebet Kadarusman yang pantang menyerah untuk melawan stroke yang dideritanya bertahun-tahun. Pernah pula Kick Andy menampilkan seorang perempuan yang tangan dan kakinya tidak sempurna, namun dia tidak patah semangat dan justru meneruskan bakatnya melukis. Setelah tampil di Kick Andy, terdengar kabar ia telah menikah dengan seorang pria Austria yang sempurna dan tampan. Selain masalah sosial, ada pula topik yang mengetengahkan kekuatan cinta. Bersama Andy Noya di acara itu digambarkan seorang calon pilot yang mengalami kecelakaan dan hampir seluruh bagian tubuhnya rusak, namun kekasihnya masih setia mendampingi hingga mereka menikah dan hidup bahagia sampai sekarang. Maka bisa dipahami jika dari waktu ke waktu, Kick Andy semakin banyak digemari pemirsa. Program ini masuk dalam peringkat tertinggi pada dua puluh besar top program Metro TV. Dengan tetap mengedepankan semangat idealisme, program ini ternyata juga laku dijual, sponsor dan iklan lumayan banyak. Program Kick Andy menempati rating tertinggi saat mengangkat topik Republik BBM, sebuah acara parodi sosial-politik yang pernah ditayangkan stasiun televisi Indosiar. Bahkan rating-nya mengalahkan berita gempa bumi yang waktu itu melanda Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah. Juga ketika Kick Andy mengulang secara lengkap wawancara eksklusif dengan dai kondang Aa Gym yang kontroversial. Secara umum rating yang tinggi dan terus meningkat menunjukkan Kick Andy semakin diterima dan melekat di hati penonton. [ ]

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Copyright 2011 Edwin's Blog. Powered by Blogger
Blogger by Blogger Templates WP by Wpthemescreator